Apa Maksud dari Mimpi Kematian Anda Sebenarnya?

image
Image: menaiset.fi

Interpretasi mimpi telah menjadi bagian penting dalam psikoterapi, setidaknya sejak Sigmund Freud menunjukkan hasil penelitiannya. Menurut Freud, mimpi adalah “jalan menuju kerajaan bawah sadar” (The Interpretation of Dreams, 1900), yang memungkinkan sekilas masuk ke dalam kerja terdalam dari jiwa yang tidak dapat dilakukan selama kita terjaga. Bagi Freud, mimpi membuka celah-celah dimana kita bisa melihat rahasia-rahasia tergelap kita. Rahasia yang bahkan kita simpan dari diri kita sendiri.

Atas reaksi terhadap Freud, banyak yang menolak pandangan mimpi ini seperti sampah. Salah satu teori alternatif yang paling terkenal dari mimpi adalah teori aktivasi-sintesis. Menurut teori ini, otak memproduksi pola aktivitas “pengambilan keputusan” yang merupakan bagian dari otak, kemudian mencoba untuk mensintesis dan membuat rasa. Namun cerita yang dihasilkan adalah kombinasi dari konten dan koneksi aneh, karena pola aktivasi saat tidur tidak mencerminkan pengalaman seperti yang diakui otak ketika terbangun. Dibawah pandangan ini, tidak ada “makna” nyata untuk kita temukan dalam mimpi, artinya tidak ada pesan lebih dalam yang kita bisa uraikan.

Jika sebagian besar dari kita merasa ide-ide Freud jauh lebih dekat, kita mungkin menemukan pandangan “kegiatan acak” yang membosankan. Terlepas dari bagaimana kita menjelaskan mimpi, kita pada dasarnya setuju bahwa peristiwa dalam mimpi tidak benar-benar terjadi. Justru untuk alasan inilah kita merasa lega setelah bangun dari mimpi buruk, dan kecewa jika bangun dari mimpi yang baik. Ketidaksadaran setara dengan televisi. Tidak lebih dari sekedar fantasi.

Namun mimpi seperti itu menjadi pegangan dalam imajinasi kita. Bagaimana tidak, peristiwa ajaib yang terjadi saat kita tidur tersebut terjadi di suatu tempat antara dunia ini dan dunia lain. Tidak heran dalam berbagai kitab suci dikatakan berulang kali bahwa mimpi merupakan cara bagi Tuhan untuk berkomunikasi kepada manusia. Bahkan saat ini banyak orang percaya bahwa orang yang sudah meninggal dapat mengunjungi kita di dalam mimpi, yang mungkin datang untuk menyampaikan pesan dari sisi dunia lain. Bagaimana mungkin mengalami hal tersebut bisa memberi efek kuat pada jiwa kita?

Ada diskusi yang tak terhitung jumlahnya mengenai kematian:

“Saya tidak ingin mati begitu saja.”
“Saya takut akan kematian, namun ingin sekali mati.”
“Saya hanya ingin menemukan beberapa kebahagiaan sebelum mati.”

Mengetahui kita pasti mati akan menentukan pilihan kita. Psikoterapis eksistensial telah menulis sebagian besar eksplisit tentang hubungan kita dengan pengetahuan kematian kita, di antaranya Irvin Yalom, yang menulis:

“Kita tidak pernah bisa benar-benar menaklukkan kecemasan akan kematian: Itu selalu ada, bersembunyi di jurang tersembunyi dari pikiran” (Staring at the Sun, 2008).

Ketika masih muda, lebih mudah untuk menyangkal realitas kematian kita. Seiring dengan bertambahnya usia, pemikiran mengenai kematian menjadi lebih nyata. Kita kehilangan orangtua, kakek-nenek, dan teman-teman. Psikolog Erik Erikson menyarankan bahwa tahap akhir kehidupan ini menawarkan tantangan yang khusus datang untuk berdamai dengan kehidupan dan untuk berdamai dengan pilihan seseorang yang ia sebut “integritas ego.” (Alternatifnya, menurut Erikson adalah keputusasaan).

Mengetahui kita akan mati benar-benar dapat menjadi hadiah, seperti kematian memiliki makna sejauh menginformasikan bagaimana kita hidup. Kita memiliki pilihan pada setiap titik dalam hidup kita untuk mengambil stok dari kehidupan dimana kita tinggal dan bertanya apakah tindakan kita sejalan dengan apa yang kita benar-benar nilai. Jika kita telah berfokus pada makna tujuan, itu akan sedikit mengurangi putus asa dan menerima dengan sepenuhnya kematian yang mungkin akan datang beberapa tahun kemudian.

Sulit untuk menghadapi realitas kematian yang tidak akan berubah dalam beberapa cara, namun seringkali ini menjadi hal yang lebih baik. Dengan cara yang pedih, korban upaya bunuh diri sering mengalami penyempurnaan dalam pendekatan mereka untuk hidup. Salah satu korban pernah bertanya, “Jika saya tidak mati, untuk apa saya kembali? Untuk tetap berada di jalur, saya berada dalam keadaan dimana kematian adalah pilihan yang paling menarik.” Seperti yang artikel baru-baru ini sarankan, Anda dapat “sepenuhnya hidup sekarang dengan bermeditasi pada kematian Anda.”

Berdasarkan studinya mengenai mimpi kematian,
Dr. Deidre Barrett menyimpulkan bahwa karakteristik yang paling mencolok dan konsisten dari memimpikan kematian adalah isinya yang sangat menyenangkan bagi mereka.

Kita menanamkan mimpi dengan makna melalui koneksi yang kita buat antara peristiwa imajiner dan pengalaman saat kita terbangun. Analisis mimpi dalam psikoterapi umumnya menjauh dari mencoba untuk “mencari tahu” apa maksud dari mimpi tersebut, dan bukannya bertanya apa yang akan mereka lakukan atas mimpi tersebut. Kita yang memutuskan apa maksud dari mimpi kita.

Saya memilih untuk percaya bahwa mimpi saya akan kematian mencerminkan sesuatu yang benar tentang alam kehidupan dan kematian. Saya sudah memutuskan untuk percaya bahwa mimpi tersebut telah mengungkapkan sesuatu yang pikiran sadar saya tidak bisa bayangkan.

Dalam fantasi kita tentang kematian, seperti dalam mimpi kita, kita menemukan makna dalam kehidupan. Menghadapi kematian sebelum kita mati, apakah itu dalam mimpi atau dalam keadaan pikiran sadar, mungkin mengubah tidak hanya bagaimana kita mati, tetapi juga bagaimana kita hidup.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY